Untuk Orang Tua Tercinta
Izinkan yaya memulai dengan permohonan maaf dan semoga surat ini bukan sebagai representasi berita tidak menyenangkan. Mak, pak, masih ingat akhir Oktober 2011 lalu kalian mengantar Yaya ke bandara Soekarno Hatta dengan harapan besar. Waktu itu kita sama-sama tahu bahwa gadis kecil bertubuh tidak mungil ini begitu nekad menantang gejolak hidup dan psikologis remajanya. Semoga waktu itu Yaya pergi tidak dengan arogansi, karena Yaya selalu tahu jauh di dalam hati Yaya pergi karena Mamak, Bapak, Dita dan Nasya. Masa bodoh apa tanggapan orang dan khususnya keluarga besar. Mereka tidak tahu bahwa kadang ketika kita terlalu sayang dengan hal-hal tertentu kita harus meninggalkan hal tersebut secara gagah berani demi pembuktian bahwa kasih sayang itu nyata. Maka Yaya pergi dengan niat yang tulus bukan untuk kepuasan pribadi semata.
Masih ingat waktu itu Yaya menangis?
Bukan, bukan karena hati ini sedih. Bukan juga karena emosi marah. Mungkin keduanya ada. Tapi Yaya menangis karena takut. Waktu itu Yaya sadar betapa besarnya resiko dan tanggung jawab yang Yaya emban. Yaya tahu bahwa hidup Yaya, at some points or more, akan berubah total. Maka Yaya menangis karena Yaya takut gagal. Begitu takut dan naif karena kita sama-sama tahu bahwa di hidup ini sebenarnya tidak ada yang namanya kegagalan. Namun disini yang Yaya maksud gagal adalah jika Yaya mengecewakan kalian. Sakit rasanya setiap kalian menelpon atau bertanya lewat BBM tidak ada berita bahagia yang bisa Yaya sampaikan. Maka kali ini Yaya menangis karena telah terlalu banyak berita tidak menyenangkan yang hadir di tengah kalian.
Mak, pak, Yaya senang berada disini. Sungguh. Ingat dulu Yaya pernah menunjukkan hasil psikotes dan tertulis disitu bahwa lingkungan yang paling cocok untuk Yaya adalah lingkungan yang membebaskan. Yang membebaskan untuk Yaya bisa berbicara menyampaikan pendapat. Lingkungan yang membebaskan Yaya untuk berpotensi dan berekspresi secara maksimal. Lingkungan yang dikelilingi orang-orang yang menginspirasi... Yaya dapat itu semua disini. Semua yang Yaya kenal, apalagi orang-orang Indonesia disini begitu luar biasa. Banyak kesempatan yang sudah Yaya alami, yang tidak mungkin bisa Yaya rasakan jika Yaya masih di Indonesia. Banyak senior, teman-teman dan junior yang bisa Yaya ajak berdiskusi. Perbedaan latar belakang, pengalaman dan usia yang begitu jauh menjadi sebuah platform belajar baru. Keinginan untuk sama-sama belajar dengan dosis perjuangan yang sama telah menyatukan kami dan ide-ide kami dalam perbedaan. Bahkan telah banyak dibuat program yang membuat Yaya begitu merasa hidup, sebagai obat kangen rumah dan tanah air yang paling ampuh. Maka sampaikan kepada orang-orang disana, bahwa Yaya masih belum menjadi apa-apa. Juga untuk mamak dan bapak, agar tahu bahwa gadis remaja ini masih lugu dan polos. Seperti bayi baru lahir yang sedang belajar ngomong dan berdiri. Bayi yang belajar bertindak dan berucap dari mengamati orang-orang di sekitarnya.
Pak, sebagai dosen politik tentunya sudah paham bahwa salah satu kata krusial, salah satu kata kunci di ilmu politik adalah power. Yaya mendapat sebuah metafor yang bagus tentang power. Bayangkan sebuah kereta kuda, dengan kuda yang begitu gagah dan kuat, yang dijalankan oleh orang yang begitu powerful. Bagi orang-orang yang berada di jalan yang sama, mengamati kereta kuda itu, tentunya beranggapan bahwa kereta kuda itu bisa dengan mudah melewati jalan dan mencapai tujuannya. Namun mereka, termasuk si pengendara lupa bahwa ada yang namanya kemacetan lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas, yang bisa saja menghalangi mereka bahkan mencegah mereka untuk sampai ke tujuan tepat waktu dan selamat. Maka begitu pula dengan politik, yang sebenarnya begitu familiar dengan aplikasi di kehidupan kita sehari-hari. Ternyata rintangan itu ada dan akan selalu ada. Ini sudah Yaya sadari betul sebelum Yaya berangkat ke Turki, setelah menjalani kurang lebih 8 bulan di Antalya hingga sekarang. Namun seperti yang sudah Yaya sampaikan sebelumnya, Yaya takut jika tantangan ini terlalu mengecewakan untuk kalian jika tidak bisa Yaya tangani dengan baik. Waktu itu pernah Yaya sampaikan pada seorang kakak yang baik hatinya, "Kak, mungkin jika kita hanya hidup untuk diri sendiri dan tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain semuanya akan terasa lebih ringan." Maaf, waktu itu memang sedang labil selabil-labilnya. Tolong ingatkan selalu bahwa ketika kita berjuang untuk orang lain, dengan pencapaian yang baik output nya akan seribu kali bahkan mungkin sejuta kali lebih membahagiakan.
Di agenda harian sudah berlembar-lembar Yaya menulis runtutan-runtutan kegagalan beserta alasannya. Semua kadang Yaya baca dan tempel di lemari pakaian agar bisa dilihat setiap hari. Itu semua Yaya lakukan sebagai motivasi dan reminder agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Namun tetap berat rasanya, ketika jauh dari kalian dan kurangnya intensitas komunikasi kita. Rasa nyaman itu...yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Rasa aman dan tentram di rumah yang begitu membuat rindu. Ketika runtutan ujian datang pada keluarga kita, seberat apapun itu, jika ada di rumah rasanya semua akan baik-baik saja. Tapi Yaya masih sangat beruntung karena punya Allah, mamak dan bapak. Maka dari itu Yaya mohon restu dan doanya agar tetap kuat disini. Terlebih agar setiap musim panas Yaya bisa pulang dengan membawa kabar gembira...
Terimakasih karena mengajarkan Yaya arti tanggung jawab. Bahwa apa yang Yaya mulai harus diselesaikan. Pada sebuah episode di (katakanlah) sinetron Amerika; Army Wives (tontonan favorit Yaya waktu masih di rumah, hehe) Emmalin pulang ke rumah karena kegagalan bertubi-tubi yang dialaminya di tahun pertama kuliah dan betapa ia merasa kehilangan jati diri. Waktu itu ia berkata pada ayahnya, "Yah, saya sejak kecil tidak terbiasa gagal." Dan ayahnya berkata, "Gagal adalah jika kamu menyerah. Apakah kamu menyerah? Tidak, kamu hanya sedang berjuang. Begitu pula saya..."
Sekali lagi, Yaya tidak ingin apapun melainkan doa dari kalian semua, dan permohonan maaf serta pengertian yang sebesar-besarnya, jika Yaya tidak menyenangkan hati kalian.
Mungkin dapat dimengerti, Yaya termasuk orang yang kaku menyampaikan emosi yang berbau sensitif. Maka jika Yaya hanya mampu menulis, akan Yaya tulis semua. Karena walau jarak kita jauh, hati akan senantiasa dekat.
Sampai jumpa di lain waktu ketika cuaca di Istanbul mulai menghangat, sehangat hati kita semua.
Insya Allah.
