Elegi Melankoli
Pagi-pagi sekali, sewaktu mata masih setengah terbuka kami menyantap roti dan keju. Menu sarapan yang maknanya lebih dari sekedar tradisi orang Turki. Lebih dari sekedar bubur atau nasi goreng untuk orang Indonesia, karena tidak setiap hari kita menyantap menu sama, kan? Biar mata enggan untuk sepenuhnya sadar, kali ini kucoba membuka telinga, mendengar penuh perhatian tiap kata dari mulut mereka.
"Sudah lima bulan kamu disini, Yaya. Tapi kami tidak pernah melihatmu menangis. Tidakkah kamu kangen Indonesia?"
Walaupun saya harus menangis kataku, tidak akan rela menangis di depan kalian, aku menjawab. Cukup dalam hati.
Tapi sejujurnya saya sudah lupa kapan terakhir kali saya menangis karena kangen rumah.
Kalau hampir nangis karena kangen rumah saya belum lupa.
Barusan.
Entah saya yang terlalu sensitif, tapi rasanya pertanyaan tentang rumah, tentang bapak ibu terlalu berlebihan untuk ditanyakan dengan kalimat sama. Mengandung kata "kangen".
"YAIYALAH!" saya kepengen menjawab sambil teriak rasanya.
Sejujurnya saya senang disini. Semua saya coba nikmati dengan pikiran positif. Biarlah sebenarnya homesick, tapi kalaupun saya bisa pulang, saya tetap akan mengatakan saya senang disini. Biarlah ini semacam dosa atau sebuah perasaan tidak pantas dari seorang manusia. Siapa peduli?
Bukan berarti saya tidak kangen. Saya kangen.
Hanya saja misi tidak bisa ditinggalkan kalau belum selesai.
Kadang saya tidak sabar menunggu besok. Karena terlalu lelah rasanya hari ini memikul semuasendiri. Biarlah energi hari ini habis, masih ada esok untuk mengisi energi lagi. Jika besok sudah datang, saya tidak sabar menunggu lusa. Kemudian penasaran apakah tawa ini masih bisa dibagi.
Saya kira masih. Buktinya saya senang.
Saya tahu, saya tidak sendiri. Teori "Misery loves company" pun agaknya sudah bisa saya buktikan ke-sahih-an nya. Terkadang, saya mengunjungi teman berbeda bangsa yang sama-sama memikul nasib tak jauh berbeda. Kami tidak bercerita banyak tentang masing-masing negara atau keluarga kami. Kami hanya tertawa, dan bersenang-senang.
Sesuatu yang rasanya sangat mudah untuk dibagi, walaupun kadang kami susah untuk mengerti satu sama lain. Kultur, bahasa, dan dialek yang berbeda. Semua serba berbeda. Tapi kami berlatar belakang sama, sama-sama merantau di negeri orang.
Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kami keluarga. Tanpa formalitas apa-apa. Lebih dari cukup untuk kami mengerti satu sama lain bahkan tanpa kata apa-apa. Karena kami sama.
Latar belakang itu, satu hal yang membuat saya tidak bisa berbagi dengan rakyat native sini. Karena bagaimanapun juga, mereka tidak akan mengerti dan tidak akan pernah mengerti.
Saya juga tidak bisa menuntut lebih. Bukan salah siapa-siapa.
"Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home..."
Michael Buble - Home