My Love For Books
Pertanyaan yang paling menyesakkan setelah saya tiba di Indonesia datang dari keluarga saya, "Who's the love of your life now?"
Dan saya
bosan menjawab dengan intonasi, ekspresi, senyuman kecil dan jawaban yang sama, "Saya masih single."
Namun bagian terkejam adalah tidak satupun dari mereka memercayai itu. Lalu imajinasi liar orang-orang yang lebih tua dari saya ini mengatakan pacar saya orang Jakarta lah, orang Bandung lah, sampai miris sendiri melihatnya. Entah figur fiktif mana yang mereka bicarakan.
Suka-suka kalian lah.
Oke. Fokus
ke topik. *dasar-remaja-labil-yang-suka-curcol*
Well, sempat saya berandai, sebuah kata dari pertanyaan diatas yaitu "who" diganti dengan "what", sudah dengan pasti saya akan berteriak keras, "Buku! Kata-kata! Literatur! Sastra!"
Saya juga tidak bisa menjabarkan dengan pasti definisi kata cinta ini. Brilian, satu titel paling pas untuk sebuah buku. Simpel saja, sebuah buku bisa membuat kita berpikir dan berimajinasi secara konkret. Dua orang yang membaca sebuah buku yang sama belum tentu memikirkan dan membayangkan hal yang sama. Permainan kata yang tercetak sederhana yang bisa mengubah hidup jutaan orang. Seni yang dilahirkan dari dua lembar cerpen atau setengah halaman puisi. Buah pikiran manusia yang diabadikan ke dalam sebuah buku. Dan apresiasi terbesar saya berikan untuk para penulis hebat, yang punya konsistensi untuk menyelesaikan karya yang mampu menciptakan seribu dunia bagi seribu pembaca. :)
Kecintaan saya terhadap buku dan dunia membaca-menulis-berpikir timbul pertama kali saat saya membaca serial Harry Potter. Dulu saya hidup sebagai anak ingusan yang hobinya nonton sinetron Jin dan Jun, Tuyul dan Mbak Yul, Jinny oh Jinny, dan sebagainya. Semenjak saya mengenal benda ajaib berbentuk balok berbobot kurang dari 1 kg ini, barulah saya sadar ternyata selama itu saya hidup dalam dunia yang sempit, pengap, tak berwarna. Sejak saat itu, setiap pergi ke toko buku saya seperti orang yang kesetanan. Mendadak toko buku menjadi surga kedua setelah kamar tidur saya. Kemanapun saya pergi, saya selalu mencari toko buku terdekat untuk disinggahi. Hanya melihat mereka tersusun rapi di rak dan mencium bau kertasnya saja sudah membuat saya senang, seperti ada energi positif yang menggerogoti tubuh saya secara instan. Kemudian saya terobsesi untuk mengoleksi banyak sekali buku. Saya memang tidak punya list khusus genre buku favorit saya. Seringkali saya membeli berdasarkan rekomendasi teman, membaca rekomendasi yang ditulis banyak orang atau melihat label "best-seller" tertempel di buku-buku itu. Hingga sekarang, kamar tidur saya memang penuh sesak dengan buku. It used to me happy, until I realized I haven't got any chance to have them finished. Why do I buy books that I don't read?
Suatu hari, saya tak sengaja membaca sebuah kutipan dari Haruki Murakami, seorang novelist asal jepang yang telah menulis banyak best-selling novel, "If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking."
Saya terdiam sejenak dan mencoba menelaah kalimat itu.
Selama ini saya membeli buku berdasarkan apa yang orang rekomendasikan. Selama ini saya tergoda dengan hasil produk marketing berlabel "best-seller". Ternyata semua itu tidak menggambarkan pribadi saya yang sebenarnya dalam membaca. Saya sadar buku-buku favorit yang telah saya baca berulang-ulang sebagian besar bukanlah dari rak best-seller, walaupun banyak juga yang berasal dari situ. Buku-buku favorit saya sebagian besar adalah buku-buku yang benar-benar ingin saya ketahui isinya bahkan ketika belum saya bayar. Karena menurut saya semua buku itu bagus, kelebihan yang dipunyai buku yang tidak terlalu banyak dibahas orang adalah ketika saya merasa "berbeda" karena telah membaca sesuatu yang tidak orang banyak baca. I feel rich and nurtured. I realized that people should not tell me what I must read. I should've concerned more about what I want to read instead. Since then, I never read any recommendation and spend more time in bookstore to really decide which books I'm going to buy. :)
